• Rabu, 22 Februari 2017

    Oh Jens!



    Februari ini saya dengar penuh "Life Will See You Now", album baru Jens Lekman. Seperti biasa, suara Jens memang bukan suara yang 'menakjubkan' karena dia nyanyinya ya gitu itu, macam orang ngobrol saja. Pun di beberapa lagu dalam album ini  ada bagian yang terasa 'krik' buat saya. Tapi secara keseluruhan masih net off dengan irama-irama pop yang sepertinya lebih kaya ketimbang album sebelumnya. Coba dengar refrain "What's That Perfume That You Wear" yang super ritmis atau intro "How We Met, The Long Version" dan "Evening Prayer" yang agak-agak bau disco lawas 80-an. Ciri bunyi pop yang nggak rumit dan manis di kuping pun masih ada banget di "Our First Fight" dan "How Can I Tell Him" misalnya.

    Tapi ya, bagian paling menyenangkan dari lagu Jens Lekman buat saya adalah liriknya. Bayangkan gimana caranya kata-kata seperti methane, 3D printer, dan tumor dimasukkan ke lirik lagu pop tanpa bikin lagunya jadi aneh. Rasanya kalau bukan dia yang melakukan kok agak susah.

    Beberapa lagu yang menurut saya harus di dengar:

    To Know Your Mission,
    karena refrainnya bawa-bawa pertanyaan dalam macam tujuan hidup, padahal musiknya ngajak tepuk tangan banget. Plus bonus kutipan Merry Riana-ish semacam

    "...have a dream, a GPS in your heart, A path to follow through the dark."

    atau yang bisa dijadikan caption foto instagram seperti:

    "But in a world of mouths, I want to be an ear."

    Evening Prayer,
    karena dance-able tapi liriknya sedih kompleks.

    "He says, "It's helped me a lot to have a friend like you, when I saw you worry, I knew I had to be strong." He gives the tumor to the waitress, says, "Give my friend here a beer""

    "....How I prayed that I could stop the pain, when the pain needed more than ibuprofen."

    Hotwire the Ferris Wheel,
    karena musiknya 'chill chill enaa'

    Wedding in Finistere,
    karena musiknya lucu, ada bunyi perkusi di intro dan refrain (atau chorus? bedanya apa saya ndak begitu ngerti) yang bikin lagunya terasa agak sedikiiit samba. Terus ilustrasi di liriknya menangkap dan menyelesaikan dengan lucu 'kebingungan' soal menikah

    Is this where the world ends? or is it where it's beginning? You open one door to find all the other doors closing.

    I said, "Marry and regret it. Don't marry, regret it too. Whether you marry or you don't, either way you'll wish you hadn't"

    We laughed and she dried a tear. We walked back to the town front. And later that night I sang "You Are the Light",we all danced and got drunk

    How Can I Tell Him,
    karena oh! sangat melankolis kruwes. Boleh jadi abege banget sebenarnya tapi lagunya kalem aja, santai dan nggak norak gitu, Musiknya pun sederhana, instead of di 'kruwe-kruwes'-kan musiknya malah manis dan menyenangkan kuping.

    We part ways at the station. He's got his bike and he rides into the gap....
    Before he's gone he shouts, "Later, dude"
    I think, "Yeah,
    I love you too"


    Sisa lagu lainnya nggak terlalu saya suka:

    What's That Perfume That You Wear,
    karena sudah terlalu sering didengar bulan lalu

    Our First Fight,
    karena kalah sama lagu-lagu yang disebut di atas. Kurang stand out walaupun sebenarnya enak juga.

    How We Met, the Long Version,
    karena musiknya terlalu disko padahal liriknya super lucu, seperti lagu tema serial Big Bang Theory dengan twist romantis *halah*

    Postcard #17,
    karena nggak terima kenapa dari banyak lagu Postcard series lagu ini yang dimasukkan album. Tapi untuk yang sedang sedih sepertinya lagu ini bisa jadi pengiring.

    Dandelion Seed,
    karena terlalu cozy jadi agak ngantuk dengarnya.



    Sabtu, 18 Februari 2017

    Merajut Syal! Horee!



    Hari ini akhirnya saya berhasil menyelesaikan rajutan syal! Alhamdulillah! Horeeee!

    Saya mulai belajar merajut sejak bulan Juli tahun lalu kalau nggak salah. Jadi ceritanya saya dapat hadiah buku panduan merajut (judulnya “A-Z of Knitting”) lengkap dengan jarum dan benang dari seorang teman.  Excited banget waktu itu, saya pun langsung nyoba, ternyata susah pak!

    Untuk ngerti caranya memulai knitting (casting on) saja susah buat saya. Baca instruksi dari buku berulang-ulang nggak paham-paham. Nonton video tutorial di youtube pun masih sama. Akhirnya baru sedikit paham waktu nemu video tutorial yang extra slow motion gitu, di-download-in suami. Setelah nonton video yang itu saya balik baca bukunya dan akhirnya bisa deh cast on. Luar biasa, buat belajar cast on aja saya perlu waktu dua hari, dan selama dua hari itu pula saya gemes-gemes sendiri karena nggak ngerti-ngerti.

    Setelah berhasil cast on, baru saya agak lebih mudah lanjut belajarnya. Akhirnya bisa knit stitch dan purl stitch, lalu bikin pita-pita rajut gitu buat ditempel ke kuncir rambut. Setelah itu agak ada kemajuan sedikit, saya bikin semacam kantong untuk tempat ponsel.

    Nah, mulai ngerasa bisa, saya jadi gatel pingin beli-beli benang. Dan gatel juga pingin nyoba crochet. Oiya, jadi di Bahasa Indonesia sepertinya kita cuma punya satu padanan kata: merajut. Padahal kalau Bahasa Inggrisnya, ada  crochet dan knitting. Kalau crochet pakai satu jarum (hakpen sih), kalau knitting pakai dua jarum.

    Eh kok jadi bahas padanan kata hehe. Singkat cerita, saya akhirnya pergi ke toko yang menjual alat dan bahan merajut. Dari hasil googling saya pilih ke De Craft di Pondok Indah Mall (di south bridge/skywalk L1 unit S108) karena paling dekat. Saya beli 1 gulung besar acrylic yarn (99 ribu, termasuk golongan yang paling murah di tokonya), 1 gulung benang untuk crochet (lupa apa jenisnya, 75 ribu) dan 1 hakpen.

    Setelah belanja, sampai akhir tahun benang barunya nggak diapa-apain. Mangkrak hehe. Baru Januari kemarin saya mulai knitting pakai benang hasil belanjaan. Pingin buat syal untuk suami ceritanya, biar manis seperti di film-film. Ngerjakannya on-off juga sih. Paling rajin kalau di luar lagi hujan dan lagi nemu lagu yang pas, knitting-nya bisa lamaa sekali, asik sendiri gitu. Setelah dua bulan on-off akhirnya hari ini syalnya jadi. Masih kurang rapi sih di sana-sini karena ada beberapa sticth yang kelewat (kadang didedel dan diulang lagi, kadang kalau tangannya sudah terlanjur pegel dibiarkan saja, jadi ada yang bolong-bolong kecil gitu).

    Tapi overall saya senang sekali :D soalnya ini hasil knitting paling niat sih selama ini walaupun dibuatnya pakai satu motif saja (garter stitch, yang paling gampang hihi). Satu gulung besar benangnya jadi syal lebar 15 cm panjang 135 cm. 




    Selasa, 14 Februari 2017

    January 2017 - A Playlist

    Sumber gambar: urbanoutfitter


    Playlist bulan Januari kemarin diisi beberapa lagu yang terlewat tahun lalu, lagu yang diputar karena bawaan habis nonton film, mood-nya lagi pas, dan beberapa lagu lain yang memang baru dirilis Januari tahun ini, baru dengar dan langsung suka.

    (daftar ditulis alfabetis)

    Darling I Do - Landon Pigg feat Lucy Schwartz

    Januari dua tahun yang lalu, saya dan (calon) suami jadian. Nah karena lagi anniversary gitu, jadi keingat lagu soundtrack-nya Shrek ini. Lagunya manis.


    Down and Dusky Blonde

    Saya sering mutar lagu ini karena baru nonton God Help The Girl. Filmnya sendiri sebenarnya sudah lama, rilis tahun 2014. Lagunya juga sering dinyanyiin adek saya karena dia suka film ini. Ide cerita filmnya sebenarnya cukup 'lucu'. Cuma entah kenapa, saya lebih suka nonton potongan-potongan adegan nyanyinya saja ketimbang nonton filmnya secara keseluruhan. Nah dari banyak lagu soundtrack God Help The Girl, lagu ini yang paling nyangkut buat saya (mungkin juga karena secara nggak sadar sudah familiar duluan gegara dulu sering diputer adek). Oh iya, nggak nyambung sih, tapi di 'video klip' lagu ini, baju yang dipakai Emily Browning dan Hannah Murray lucu-lucu.


    Markers of Beautiful Memories - The Camerawalls

    Saya baru tahu lagu mereka ada di Spotify dan ternyata Desember 2016 lalu mereka rilis ulang album. Remastered gitu, lagu ini termasuk di dalamnya. Lagunya enak didengar di perjalanan naik grabcar, transjakarta atau KRL.


    Moving On and Getting Over - John Mayer 

    Saya senang Mas John rilis album baru! Udah gitu lagu-lagu dari The Search for Everything - Wave One enak semua. Tapi favorit saya yang ini, karena mood bunyinya asik, enak didengar sambil ngerjakan banyak hal. Cocok juga didengar sambil minum matcha latte instan di rumah waktu hari hujan.


    New York and Back - Leanne & Naara


    Ini tipe lagunya lagu ngopi-ngopi cantik sih. Mungkin karena sejak tahun baru sering hujan jadi bawaannya suka dengar lagu begini. Btw, ini pengalaman pertama saya dengar Leanne & Nara. Duo mbak-mbak Filipina ini lumayan menyenangkan suaranya.


    Scar - Lucy Rose

    Ini juga jadi lagu yang sering saya putar kalau di luar hujan. Saya suka suaranya Lucy Rose karena seperti ada di pertengahan antara suaranya Marketa Irglova dan Grace Vanderwaal.


    Stay - Jelly Rocket (Rubber Track Version)


    Nama band-nya Jelly Rocket, lucu ya? Ini band mbak-mbak Thailand gitu, saya temukan karena kapan hari tiba-tiba pingin dengar soundtrack-nya Suckseed dan film-film Thailand lain, lalu 'loncat' kesana-kemari akhirnya nemu lagu mereka. Versi yang pertama kali saya dengar sebenarnya versi baru yang ada di album rilisan 2017, tapi ternyata saya lebih suka versi awalnya yang rilis tahun 2015. Lagunya agak dream pop gitu, dan sedikit imut, tapi nggak berlebihan.


    Sunsoaked - Adib Sin feat Salsa


    Ini lagunya baru, dan 'jaman sekarang' banget sih menurut saya. Tumben juga suka yang semacam ini. Rasanya pas pertama kali dengar, lagu ini agak mirip This Girl-nya Kungs. Sama-sama enak dan saya suka, tapi yang ini less beat, lebih tenang chill tipenya.


    There She Goes - Leon Bridges


    Ini temuan baru yang terlambat sih karena lagunya rilis tahun 2015. Saya dengar Leon Bridges karena kemarin-kemarin sempat suka dengar blues dan soul macam Alabama Shakes untuk mood tertentu. Nyari yang sejenis, akhirnya ketemu Leon Bridges (lebih soul ketimbang blues sih). Saya suka lagu ini karena musiknya semangat, pas buat mbak-mbak yang sedang dandan sehabis mandi sebelum berangkat ngantor. Lebih lucu kalau  didengar sambil nyanyi asik sendiri dengan sisir rol sebagai mic.


    They Don't Know - Ariana Grande


    Saya selalu suka suaranya Ariana, tapi nggak suka kebanyakan lagunya. Salah satu dari sedikit lagunya yang saya suka ya ini. Lagunya happy bersemangat, musiknya nggak terlalu 'kekinian' (kecuali bagian rap) tapi enak dipakai nyanyi-nyanyi happy.


    Til You Belong To Me - The School


    Lagunya sudah lama sih,  Monthly dose of indie pop saja ini hehe.


    Wake Me Up Before You Go Go - 


    Lagunya sangat dance-able. Ini versi cover oleh Pomplamoose yang saya lebih suka ketimbang versi aslinya yang dinyanyikan Wham.


    What's That Perfume That You Wear? - Jens Lekman


    Horee! Jens Lekman ada lagu baru! Seperti biasa bunyi lagu dan vokal Jens Lekman boleh dibilang biasa aja, tapi liriknya 'lucu'. Agak melankolis di awal, lalu reff-nya mulai penuh beat ditambah lirik berisi aroma-aroma parfum.


    When You Wish Upon a Star - Brian Wilson


    Bulan Januari kemarin saya nonton Love & Mercy, film tentang Brian Wilson. Sejak nonton film itu saya jadi memasukkan lagu-lagu Beach Boys dan Brian Wilson ke playlist. Nah lagu ini lucu soalnya lagu Disney tapi dinyanyikan Brian Wilson, efek lagunya jadi semacam dobel buat saya.


    Catatan:
    gambar dalam unggahan ini diambil dari urbanoutfitter.com

    Rabu, 01 Februari 2017

    Review Mesin Jahit Brother GS 2700



    Akhirnya saya punya mesin jahit lagi hihihi. Ini mesin jahit kedua yang saya beli. Dulu pertama kali, beli mesin jahit portabel mini yang 300 ribuan itu. Walaupun sempat dipakai permak baju kecil-kecilan beberapa kali, mesin jahit yang itu nggak berumur lama. Entah saya kurang jago makainya atau gimana, tapi belakangan mesin jahitnya bermasalah. Mulai dari benang ruwet, jahitannya kusut, sampai akhirnya mesinnya nggak mau gerak sama sekali. Akhirnya saya buang mesinnya waktu pindahan, karena nggak bisa dipakai dan nggak ada garansi atau suku cadangnya juga kalau mau benerin.

    Nah setelah sekarang belajar jahit lagi, saya akhirnya beli mesin jahit yang lebih serius. Maksudnya, yang punya merek jelas dan garansi, juga suku cadang atau komponen-komponen tambahan yang gampang dicari). Awalnya sempat bimbang milih merek mesin jahit, ada Janome, Butterfly, Brother dan yang paling terkenal, Singer. Tapi akhirnya saya pilih Brother karena beberapa pertimbangan di bawah ini, barangkali bisa jadi gambaran buat yang lagi mau beli mesin jahit tapi bingung.

    catatan: disclaimer, pertimbangan ini sifatnya pribadi, jadi subyektif, selain itu pertimbangan ini dibuat menyesuaikan kebutuhan jahit dan kondisi kantong yang bisa beda-beda buat tiap orang. Ditambah lagi, pengalaman saya nyoba-nyoba mesin jahit disini cuma nyoba di tempat les, jadi jangan dibayangkan sudah nyoba makai selama sekian bulan atau tahun gitu.
    • Saya nggak pilih Butterfly karena saya nggak pernah nyoba mesin jahit merek ini. Sebenarnya harganya relatif lebih murah dibanding yang lain, tapi saya agak takut mesin jahitnya rusak kalau saya pakai. Masih trauma mesin jahit sebelumnya yang juga murah.
    • Saya sempat hampir memutuskan untuk beli Singer Talent 3323. Sudah pernah nyoba dan nggak ada masalah, jahitan rapi, penggunaannya gampang dan yang paling kelihatan, dia body mesinnya kokoh, sepertinya akan awet walaupun penggunanya “destroyer” macam saya. Tapi pas dilihat harganya di situs belanja online kok rata-rata diatas 3 juta, jadi agak mikir-mikir.
    • Setelah nyadar kalau untuk beli Singer budgetnya “ngoyo”, saya jadi bimbang pilih Janome atau Brother. Saya pernah nyoba Janome 1008, pada dasarnya nggak ada masalah sih, cuma saya pernah jahit resleting terus nyangkut karena gerigi di bawah kainnya nggak jalan. Jadi kainnya perlu agak didorong gitu supaya bisa terjahit dengan baik. Lagi-lagi ini disclaimer sih, bisa jadi saya aja yang nggak bisa makai mesinnya dengan baik, atau ada kesalahan teknik yang saya lakukan. Tapi pengalaman ini cukup mempengaruhi pengambilan keputusan saya sih, jadinya nggak milih Janome.
    • Akhirnya saya pilih Brother. Sebelumnya saya pernah nyoba Brother JS 1410, bodynya nggak seberat Singer kalau diangkat tapi nggak ada masalah waktu dipakai. Dan entah kenapa saya lebih suka suara mesin Brother JS 1410 ketimbang Singer Talent 3323. Walaupun fiturnya masih dibawah Singer Talent 3323, tapi perasaan suaranya lebih halus. Cuma akhirnya yang saya beli bukan Brother JS 1410 tapi Broother GS 2700 (tipe diatasnya). Menurut saya harganya bersahabat dan fiturnya sama dengan Singer Talent 3323 yang awalnya saya idam-idamkan. Saya beli mesin ini seharga 2,2 juta. Lumayan banget hematnya, plus waktu beli lagi ada promo dari toko di situs belanja onlinenya, jadi saya dapat bonus jarum-jarum, dan beberapa sepatu jahit selain jarum dan sepatu-sepatu jahit yang juga sudah jadi bawaan dari Brother-nya.

    Begitulah cerita pengambilan keputusannya. Setelah mesinnya datang dan dipakai, sejauh ini nggak ada kendala sama sekali, dan saya seneng makainya. Nah dibawah ini beberapa poin ulasan plus minus Brother GS 2700 menurut saya:
    • Brother GS 2700 ini dilengkapi dengan DVD panduan. Ini sangat membantu sih, soalnya baca instruksi tertulis itu kadang bisa jadi sangat puyeng, apalagi saya masih pemula. Selain itu nggak semua mesin jahit ada DVD panduannya hanya tipe tertentu saja kadang, jadi pas lah saya milih Brother GS 2700.
    • Selain dapat buku panduan, juga dapat buku project jahit gitu jadi kita bisa nyoba bikin-bikin tanpa harus googling dulu. Ada tutorial bikin placemat, sarung bantal, tempat kosmetik, kotak pensil, dan lunch bag. Lumayan, jadi yang bener-bener baru mau mulai jahit dan nggak ngerti mau jahit apa bisa setidaknya dapat ide. Poin minusnya, gambar-gambar di tutorialnya minimalis banget. Untuk saya yang nggak cepet nangkep jadi susah bacanya
    • Ada 27 fungsi jahitan (jumlah jahitan nggak terlalu ngaruh sih kecuali kita memang mau jahhit dekoratif, kalau untuk baju atau crafting jahitan lurus, zigzag dan overlock stitch sudah cukup
    • Ada fitur auto needle threader untuk memudahkan masukin benang ke jarum, tapi saya masih belum paham sama instruksinya jadi lebih cepat pakai cara manual.
    • Hemat energi (51 watt)
    • Low vibration and noise. Memang oke sih, nggak seberisik Singer Talent menurut saya (mungkin karena body Singer yang lebih keras materialnya apa ya? entahlah), relatif sama dengan Janome 1008 yang menurut saya juga bunyi mesinnya halus.
    • Ternyata mesin ini punya quick thread setting! Saya nggak tahu fitur ini pas beli. Baru tahu pas nonton panduan DVD hehe, jadi kita nggak perlu muter kenop untuk mancing/ ambil benang bawah. Waktu pasang bobbin bawah ada semacam saluran untuk benang keluar (ke atas) gitu. Jadi hemat satu langkah persiapan jahit.
    • Jahit lobang kancing sudah satu langkah
    • Garansi resmi Brother-nya 3 tahun. Sangat melegakan.

    Kira-kira gitu sih kalau menurut saya. Semoga mesin jahitnya terus oke performanya dan awet, jadi masih bisa dipake waktu nanti punya cucu hahaha kejauhan ya? Tapi amiiiiin :)


    Catatan:
    Sumber gambar dari koleksi pribadi
    COPYRIGHT © 2017 MANZILA | THEME BY RUMAH ES