• Senin, 06 November 2017

    Seandainya Saya Bisa Bersalin Dengan Nyala


    Kehamilan membuat apa-apa yang saya rasa jadi meningkat kadarnya. Saya jadi jauh lebih peka, lebih mudah tersentuh, atau dalam bahasa lain, hati saya ini seperti jadi lebih "ager-ager" ketimbang sebelumnya. Percaya atau tidak, saya menangis haru pada hal-hal sepele macam keberhasilan seorang koki rumahan meraih immunity pin di Masterchef atau iklan susu SGM di tv.

    Begitu pula pada musik, saya pernah mbrebes mili sendiri waktu dengar I've Got You Under My Skin-nya Frankie Valli & The Four Season karena tiba-tiba merasa liriknya somehow pregnancy anxiety related. Lalu kemarin, untuk pertama kali saya dengar Nyala, album perdana Gardika Gigih, seorang pianis plus komponis yang awalnya saya kenal lewat kolaborasinya dengan Layur dan Banda Neira. Saya tersentuh, mentok, dan keblusuk di satu lagu dengan judul sama dalam album itu, Nyala.

    Entah bagaimana, lagu ini membuat saya membayangkan proses persalinan yang penuh harap. Saya tahu ini terdengar aneh, tapi rasanya bagi perempuan yang sedang hamil, dunia memang melulu soal perut ini dan manusia kecil nan menggemaskan di dalamnya. Jadi izinkan saya coba menjelaskan...

    Dua menit awal lagu ini mengingatkan saya pada musik latar panduan hypnobirthing. Musiknya sama-sama repetitif dan tenang. Bedanya, Nyala nggak membosankan, lebih 'dinamis' dan bernyawa. Terasa pas untuk latihan womb breathing tanpa kebablasan ngantuk. Lebih cocok lagi untuk womb breathing saat fase laten persalinan pikir saya.

    Saya membayangkan pembukaan yang tenang. Rasa sakit tidak nyaman yang teratasi dengan nafas, genggaman tangan ibuk dan suami, serta  perasaan bahagia kami. Sementara itu, Si Bayi yang baik hati ikut membantu "cari jalan" dari dalam.

    Lalu lagu ini masuk ke dua menit berikutnya. Pelan-pelan lirik terdengar:

    "Nyala terang, terus benderang
    Yang telah lalu, sirna sudah
    Nyala terang, terus menerjang
    Dan cahaya, semakin terang"

    Di dalam kepala ini, rasanya saya sudah sampai pada fase aktif persalinan. Si bayi semakin giat mencari "cahaya" di ujung jalan lahir. Kepalanya yang memang sudah di bawah, mendorong, menerjang. Kuat, makin kuat, seperti nyali dan semangat saya yang tiba-tiba Tuhan ijinkan untuk jadi jauuuh lebih besar dari sebelumnya. Sepanjang jalan, wajahnya menghadap punggung saya, ociput anterior, seperti selalu saya minta dan pesankan padanya. Saya dibantu, sungguh dibantu.

    "Nyala terang, terus benderang
    Yang telah lalu, sirna sudah
    Nyala terang, terus menerjang
    Dan cahaya, semakin terang"

    Duh anakku, cahaya kecilku yang ayu.. Terima kasih. Sebentar lagi aku jadi ibu. Lahir baru. Ikut lahir bersamamu. Semoga Tuhan mudahkan semua yang buruk-buruk hilang. Semoga segala yang ada di depan, makin terang, makin benderang.

    Lagu hampir masuk dua menit yang ketiga. 
    Musik beranjak lebih ritmis, lebih kompleks. Saya membayangkan nafas yang mulai berat, keringat, tapi juga rasa terpacu dan semangat. Dalam tubuh saya hormon mulai bercampur-campur, seperti koktail. Sebelumnya hanya ada endorfin dan oksitoksin, sekarang mulai tercampur adrenalin, dan sedikit katekolamin. Saya berusaha keras tidak berteriak. Sakit ini akan saya terima, dan Tuhan akan jadikan pahala. Nafas makin berat, tapi saya mulai merasa endorfin dan oksitoksin dalam tubuh saya sudah memenangkan pertarungan mereka. Saya tiba-tiba jadi sangat senang, satu lagi hembusan nafas panjang, satu lagi hembusan nafas panjang, pikir saya.

    Dan nyata, tepat saat lagu beranjak meninggalkan menit ketujuh, Si Bayi menemukan jalan lalu keluar dengan tangis yang tak malu-malu. Dia hepi, soalnya akhirnya ketemu dengan perempuan yang sering didengarnya membahasakan diri sebagai Ibu.

    Dan selesai, lagunya selesai. Hati saya lumer, benyek, beleber :') 


    *Tulisan ini memang nggak masuk akal masuk akal banget sih, tapi akan lebih mudah dipahami kalau anda sedang hamil dan dibaca sambil mendengarkan lagunya di sini:


    kalau masih nggak berhasil juga ya sudah ndak usah dipaksa :) nikmati albumnya aja, baguus banget. Oh iya mohon maaf kalau ada kedalahan lirik, belum sempat beli rilisan fisiknya soalnya.*




    Selasa, 31 Oktober 2017

    Akhirnya Jadi Anak Stranger Things Juga




    Sebenarnya bukan baru-baru ini sih saya dengar atau tahu "Stranger Things" (serial fiksi ilmiah horror yang tayang di Netflix sejak Juli tahun lalu). Serial ini selain populer diantara fans, juga banyak dapat ulasan positif dari kritikus. Otomatis saya sering lihat sekilas berita soal Stranger Things waktu buka-buka artikel hiburan dan sosial media. Terutama soal betapa unyu dan adorable-nya dedek-dedek pemain karakter dalam serial ini. Terutama Millie Bobby Brown yang dapat nominasi Emmy di umur 13 tahun. Hebat kan? Sementara saya, di umur 13 tahun masih gagal move on dari Petualangan Sherina lalu bikin dance cover receh lagu "Jagoan" bareng anak-anak tetangga 😅.

    Tapi waktu itu jujur saja saya nggak ngebet banget nonton Stranger Things. Habis genrenya horror sih, saya jadi parno duluan. Malas saja rasanya menghabiskan waktu dibikin takut dan ujungnya susah tidur. Mendingan dibikin mewek sesenggukan gara-gara nonton This Is Us kalau menurut saya mah.

    Tapi belakangan setelah musim 1 kelar tayang,  semakin saya sering nemu artikel yang muji-muji Stranger Things, yang bilang kalau serialnya seru, pada kangen sama geng dedek-dedek Mike, Dustin, dkk, sampai yang bilang kalau scoring musik Stranger Things oke banget dan masuk nominasi Grammy. Apalagi akhir bulan Oktober kemarin Stranger Things musim 2 dirilis. Hip-nya serial ini semakin terasa, dan saya pun semakin penasaran juga jadinya.

    Akhirnya saya nonton musim 1 karena kadung penasaran. Nggak berekspektasi banyak sih, ehhh ternyata di luar perkiraan, saya suka Stranger Things!

    Lho kok bisa?

    Bisa, karena, pertama (dan ini paling penting) Stranger Things tidak seseram yang saya kira. Horornya ternyata horor monster, menurut saya masih tolerable ketimbang film hantu-hantu biasa atau thriller psikopat. Bisa dibilang seperti nonton E.T. tapi versi nggak 'unyu', kompleks dan lebih tegangnya. Pun ketegangan di Stranger Things levelnya pas, nggak bikin stres tapi cukup untuk seru-seruan dan mancing rasa penasaran. Nontonnya deg-degan sih tapi masih bisa menguatkan diri lah.

    Kedua, karakter geng dedek-dedek dalam serial ini memang gemesin banget. Sekumpulan nerd cilik yang cupu dan kerap di-bully tapi berani melawan dan membela diri juga kalau memang sudah kelewat parah. Ada juga karakter guru di sekolah dedek-dedek ini yang 'manis' sekali, berdedikasi dan selalu memotivasi rasa keinginantahuan murid-muridnya. Intinya beberapa bagian dari serial ini membuat kita merasa bahwa jadi nerd atau freak itu nggak berarti buruk. Nggak punya banyak teman memang, tapi toh apa gunanya punya  teman banyak kalau kita nggak bisa jadi apa yang kita mau waktu bareng mereka? Enakan juga punya teman sedikit, walaupun nggak bisa mendongkrak popularitas tapi bisa nyaman jadi cupu bareng-bareng.

    Ketiga, serial yang mengambil latar waktu era 80-an ini bikin era itu terlihat 'lucu' dan agak keren, beda dengan gambaran era 80-an yang saya tonton di film macam Pretty in Pink atau The Breakfast Club yang beberapa bagiannya bikin saya mbatin "ih jaman segitu norak banget sih." Well bisa jadi saya nonton film yang salah sih, tapi terlepas dari  itu saya tetap merasa penggambaran era 80-an di Stranger Things 'lucu'. 

    Bocah-bocah pergi ke sekolah dan main malam-malam pakai sepeda yang ada lampunya, Atari, arcade games, kliping, juga scoring musik yang terasa 80-an sekali tapi 'lucu', bukan asal elektronik disko-disko aerobik nggak jelas gitu. Oh ya, hampir lupa, di serial ini juga ada satu lagu The Clash yang kok jadi pas banget gitu sama jalan cerita. Lucu deh.

    Keempat, nggak monoton dan bikin ketagihan banget. Rasanya ini patokan gampang untuk bilang sebuah serial bagus atau enggak. Walaupun durasinya panjang, alurnya nggak lambat dan selalu menyisakan misteri untuk ditonton di episode berikutnya. Durasi per episode serial ini hampir satu jam tapi rasanya seperti 30 menit kurang dikit.

    Kelima, nggak full horror tapi, masih ada unsur drama walaupun sedikit. Intinya nonton serial ini nggak melulu tegang, jadi saya masih bisa bertahan nonton sampai akhir musim 1 dan sekarang mulai nonton musim 2. Ada konflik keluarga, pertemanan, cinta-cintaan, krisis identitas masa muda, dedikasi sama profesi, anxiety problem, trauma. Pokoknya ada nilai lain yang bisa diambil selain ketakutan. 

    Keenam, ada playlist Spotify-nya. Hehehe yang ini nggak penting-penting amat sih. Tapi lucu aja waktu Netflix kerja sama dengan Spotify menyediakan playlist lagu untuk masing-masing karakter Stranger Things dan mendeteksi kecenderungan playlist kita lebih mirip tokoh yang mana.

    Nah kira-kira itu deh poin yang oke-oke soal Stranger Things. Nggak okenya mungkin bagian cerita soal Nancy (kakak salah satu dedek, Mike). Personally saya nggak suka karena bagian cerita yang ini tipikal mbak-mbak pinter kesengsem mas-mas ganteng populer terus ga jadi dirinya sendiri dan ninggalin temen gitu deh. Sisanya sih oke dan gak ada yang sangat mengganggu buat saya. Eh tapi ulasan ini sebagian besar baru berdasar musim 1 saja ya, karena musim 2 baru rilis dan saya sedang 'otw' nonton. Nanti kalau sudah selesai dan sempat insyaallah  diperbarui lagi reviewnya :) 




    Catatan:
    Foto dalam unggahan ini diambil dari pinterest Sedona Baldwin dengan perubahan oleh Manzila

    Senin, 16 Oktober 2017

    Pemeriksaan Kehamilan di BWCC Jagakarsa




    Keputusan saya memilih BWCC (Bintaro Women and Children Clinic) Jagakarsa untuk pemeriksaan kehamilan rutin bermula dari Facebook. Beberapa teman saya mengikuti dan sering berbagi postingan akun dr. Kartika Hapsari SpOg. Sebenarnya saya belum hamil waktu itu, tapi karena merasa banyak info baru yang saya dapat soal kesehatan perempuan dan anak, saya pun mengikuti akun itu juga dengan niat menambah ilmu sekaligus persiapan (walaupun nikah juga masih baru hehe).

    Setahun lebih berlalu, alhamdulillah akhirnya doa saya dan suami dikabulkan Allah. Hasil test pack menunjukkan saya positif hamil. Untuk memastikan, kami pun mulai mencari dokter kandungan terdekat. Saya lalu ingat suatu hari dr Kartika pernah berbagi info tentang klinik baru cabang BWCC Jagakarsa. Setelah kroscek via internet dan menemukan ulasan positif, kami pun berangkat.

    BWCC Jagakarsa terletak di Jalan M. Kahfi I no.31B Jagakarsa, Jakarta Selatan. Kalau dari arah Kebagusan/ Ragunan, letak klinik ini tak jauh dari pool Taksi Express. Bentuk bangunannya ruko empat lantai, memang nggak terlalu besar, tapi menurut saya nyaman karena jauh dari kesan rumah sakit. Kursi di ruang tunggunya empuk, jadi nyaman umtuk ibu hamil. Selain itu, ada space bermain anak, jadi memudahkan ibu-ibu yang hamil anak kedua, ketiga, dst waktu kontrol rutin bersama anak. Di dekat meja pendaftaran juga dijual minuman dan camilan, jadi tak perlu repot nyari camilan di luar.


    ruang tunggu
    (foto diambil dari Facebook fanpage BWCC Jagakarsa)

    tempat bermain anak
    (foto diambil dari Facebook fanpage BWCC Jagakarsa)

    Pelayanan di BWCC Jagakarsa ramah dan nggak ribet menurut saya. Stafnya baik, nggak jutek kalau ditanya-tanya. Jadwal dokter diupdate setiap hari di laman facebook dan reservasinya pun tidak harus dengan datang ke klinik. Bisa via telepon atau whatsapp, sangat praktis. Jika ada perubahan waktu kedatangan dokter (misalnya karena dokter menangani persalinan atau keperluan mendadak lainnya) kita akan dikabari via telepon, jadi nggak perlu buru-buru berangkat tapi eh ternyata dokternya telat. Kalau misalnya kita yang tiba-tiba berhalangan datang, cukup telepon atau whatsapp dan memindahkan jadwal ke hari lain, jadi kuota kita di hari tersebut bisa dipakai ibu hamil lain yang memerlukan. Oh ya, di sini antrian untuk masing-masing slot jadwal dokter hanya dibatasi 15 orang saja, jadi walaupun dapat antrian terakhir pun nggak nelangsa-nelangsa banget. Saya sempat periksa ke dua RS di Jakarta Selatan dan antriannya bisa sampai 20 bahkan 40 orang per slot jadwal dokter.

    Pemeriksaan medis yang tersedia di BWCC Jagakarsa cukup komplit. Walaupun nggak selengkap layanan di rumah sakit besar, tapi menurut saya sudah sangat oke untuk pemeriksaan rutin. Ditambah lagi harganya relatif bersahabat. Selain layanan medis seperti USG, USG 4D, USG transvaginal, pemeriksaan lab, dll, BWCC Jagakarsa juga menyediakan layanan tambahan seperti kelas laktasi, hypnobirthing, dan prenatal yoga. Kabarnya di BWCC Jagakarsa juga akan dibuka kelas persiapan kehamilan dan persalinan seperti di BWCC Bintaro.

    Tapi dari semua yang sudah disebutkan di atas, rasanya faktor yang paling jadi penentu saat periksa kehamilan itu dokternya, ya nggak sih? Saya kontinu periksa di BWCC Jagakarsa juga karena merasa cocok dengan dokternya.

    Awalnya saya saya rutin kontrol dengan dokter Dini Utari Spog. Tapi karena sempat baca dan dengar cerita buibu lain, jadinya penasaran pingin nyoba kontrol dengan dokter Dian Indah Purnama Spog juga. Setelah dicoba, eh ternyata dua-duanya sama-sama enak. Keduanya baik, ramah, mau menjelaskan (alias nggak diem-diem aja) dan sangat terbuka kalau kita punya pertanyaan terkait kehamilan. Akhirnya saya kontrol dengan dua dokter ini deh, gantian, menyesuaikan jadwal yang tersedia dan cocok hehehe.

    Di trimester pertama, saya sempat mengalami beberapa kali pendarahan, dan di trimester kedua, dokter menemukan beberapa kemungkinan indikasi khusus pada bayi saya. Alhamdulillah banget saat menemukan menemukan masalah pada kehamilan saya, kedua dokter ini ngasihtaunya nggak bikin panik walaupun mereka tetap nggak menyepelekan masalahnya juga. Saya dan suami jadi sangat terbantu untuk tetap tenang sambil menjalani pengobatan atau tindakan medis yang dianggap perlu.

    Oh iya, soal pengobatan dan tindakan medis, menurut saya dokter di BWCC Jagakarsa pro RUM (alias Rational Usage of Medicine). Di trimester pertama saat tak ada indikasi macam-macam, saya nggak diberikan vitamin atau obat yang aneh-aneh, dokter juga lebih menyarankan cara-cara non-obat untuk mengatasi mual, muntah, dan asam lambung yang makin parah saat hamil. Begitu juga ketika pendarahan dan sering kontraksi, obat diberikan karena memang betul-betul perlu, tapi saya tetap diwanti-wanti untuk segera menghentikan penggunaan obat ketika keluhan hilang.

    Persoalan pro RUM ini juga terbukti waktu saya kena diare dan demam di trimester kedua. Saya terpaksa periksa ke dokter kandungan lain di sebuah RS karena kuota periksa di BWCC Jagakarsa penuh. Dokter meresepkan obat yang waktu saya kroscek ke internet mendapat label cukup berbahaya untuk ibu hamil, beda dengan hasil googling obat-obat yang sebelumnya saya dapat dari BWCC. Padahal sakitnya cuma diare dan demam. Waktu suami saya minta tolong teman untuk numpang konsultasi via whatsapp ke dokter langganan istrinya, dokter tersebut pun nggak menyarankan obat saya, katanya cukup minum new diatabs saja bila perlu. Hasil saya kroscek new diatabs via internet ternyata jauh lebih aman ketimbang obat awal yang diresepkan dokter.

    Di BWCC Jagakarsa, selain kontrol rutin bulanan saya juga mengikuti kelas prenatal yoga (walaupun nggak rutin tiap minggu sih, suka bolos hehehe). Awalnya saya yoga sendiri di rumah, belajar dari video di youtube dan grup telegram Keluarga Gentle Birth. Cuma karena dalam yoga ada beberapa gerakan yang tidak disarankan untuk kondisi tertentu (bayi sungsang misalnya), saya jadi takut salah. Akhirnya saya ikut kelas prenatal yoga di BWCC Jagakarsa. Pengajarnya mbak Dyah Pratitasari (mbak Prita), seorang praktisi yoga, doula, konselor laktasi dan fotografer persalinan.

    Saya memang nggak punya pembanding sih, karena nggak pernah ikut yoga di tempat lain. Tapi saya merasa puas, senang dan terbantu dengan kelas prenatal yoga di BWCC Jagakarsa. Dari segi fisik, keluhan seperti sakit punggung, nyeri di panggul, dan tulang ekor berkurang signifikan. Dari segi mental saya juga terbantu, karena di setiap pertemuan Mbak Prita akan mengawalinya dengan sesi sharing kondisi masing-masing peserta dan keluhan yang dialami (alias curhat singkat), baru setelah itu kelas yoga dimulai dan gerakannya pun disesuaikan untuk mengatasi keluhan-keluhan tadi. Sesi akhir diisi dengan relaksasi, sugesti positif dan komunikasi dengan janin, tujuannya supaya badan kembali ke kondisi semula dan pikiran lebih tenang, nggak cemas serta lebih terhubung dengan bayi dalam kandungan. Setelah relaksasi, kelas ditutup dengan sharing apa yang dirasakan setelah ikut kelas hari itu. Well, kalau ditulis begini sih kesannya mungkin biasa saja, tapi di kondisi sesungguhnya rasanya itu beda dan lumayan empowering sih buat saya. Ketemu ibu-ibu lain dengan pengalaman kehamilan yang bermacam-macam, mendengar cerita soal apa-apa yang mereka usahakan dan harapan-harapan untuk proses persalinan nanti, juga kelegaan karena bisa mengeluarkan uneg-uneg (yang seringkali sulit dipahami suami atau orang terdekat lain yang nggak lagi hamil) kepada orang-orang yang juga mengalami atau setidaknya lebih mengerti. Rasanya hepi hehehe (dan terharu juga kadang-kadang :p)

    Nah sebelum kelamaan dan beleber kemana-mana ceritanya, kira-kira itu lah yang bisa saya share soal BWCC Jagakarsa. Kalau saja saya tak punya rencana melahirkan di kampung halaman (biar anak saya asli Arema :p), rasanya saya ingin juga nanti melahirkan di BWCC Jagakarsa. Dari info buibu, dua dokter saya di BWCC Jagakarsa sabar, pro normal, dan pro VBAC. Kliniknya sendiri juga pro IMD , mengijinkan kita melahirkan didampingi doula, dan biaya persalinannya relatif nggak mencekik untuk ukuran Jakarta.

    Sekian, semoga bermanfaat :)




    Catatan: foto pada judul unggahan ini diambil dari aliciaannphotographers.com dengan tambahan teks oleh Manzila


    Kamis, 01 Juni 2017

    Oohyo's Dandelion



    Excited sekali waktu hari ini iseng-iseng cari nama Oohyo di instagram, lalu nemu official account-nya dan tahu kalau si mbak rilis single baru. Oohyo boleh dibilang satu-satunya musisi korea yang saya betulan suka dan lagu-lagunya bertahan lama di daftar putar. Saya dengar lagu pop korea lain juga sih tapi kebanyakan karena penasaran soalnya banyak diomongin teman, dan sisanya karena iseng coba-coba lalu suka tapi cepet bosan juga. Nggak seperti lagu kpop mbak-mbak lain, lagunya Oohyo nggak overwhelming imutnya apalagi jogetnya (soalnya Oohyo nggak jejogedan juga sih kayanya hehe). Imutnya bukan yang ayu, canteeek, atau seksi. Imutnya yang manis aja gitu. Nggak seperti kembang gula yang besar, pink dan fluffy, tapi lebih seperti permen kunyah strawberry milk pakai mint yang dimakan waktu terlalu lama nunggu transjakarta, eneg di bus antar kota, atau sebelum pesawat take off biar telinga nggak terlalu sakit. Semacam dosis manis dan imut yang reasonable dikonsumsi setiap hari. Menurut saya aja sih ini, preferensi pribadi hehe. Fans girl band atau musisi kpop lain mohon saya jangan dihabisi hehe.

    Oh iya, kumpulan single baru si mbak judulnya Dandelion, diproduseri Tony Doogan yang juga pernah memproduseri album Belle and Sebastian dan Mogwai. Beberapa anggota Belle and Sebastian juga berpartisipasi dalam kumpulan single ini. Dalam sebuah video yang diunggah fanpage oohyo, Tony Doogan bilang kalau dia dan band (Belle and Sebastian) suka sekali suaranya oohyo yang 'cantik'. Dandelion berisi tiga track lagu yang semuanya ditulis Oohyo sendiri - Dandelion (single version), A Good Day, dan Dandelion (full version).

    Semua lagunya saya suka. Dandelion dimainkan dengan string set, cantik sekali. Agak berbeda karena kalau nggak salah ingat, belum pernah ada lagu Oohyo yang pakai string set. Di bagian awal, suaranya Oohyo yang manis digabung bunyi string instrumen yang nyes tapi playful dan beat yang muncul kuat sesekali,  lagunya jadi seperti musik resital ballet yang agak hippity hop. Ke tengah lagu, bagian refrainnya jadi agak bau-bau dream pop sedikit dan sedih syahdu tapi karena suaranya oohyo imut jadi overall ya kaya potongan pare di sepiring siomay. Pahit-pahit lucu hehe.

    Sementara itu, A Good Day, lagunya nggak secerah judulnya. Bawaannya agak sedih kalau menurut saya. Enak didengarkan kalau sedang di perjalanan dan hati lagi rungsing. Enak juga dipakai sing along karena A Good Day berbahasa Inggris, jadi kalau mau ikut nyanyi tak perlu repot melafalkan konsonan yang beruntun khas korea.

    Secara keseluruhan saya lebih suka Dandelion ketimbang Pizza, single Oohyo yang dirilis sebelumnya. Lebih mirip Oohyo di Girl Sense, album Oohyo kesukaan 💖



    Catatan:
    Gambar dalam unggahan ini diambil dari bandcamp Oohyo
    Dandelion bisa didengarkan di bandcamp atau spotify

    Selasa, 23 Mei 2017

    Membaca Happy Little Soul



    Sebenarnya saya nggak terlalu ambisius untuk dapat dan baca buku ini. Walaupun saya nyata-nyata nge-fans Kirana dan Ibunya, kabar-kabarnya buku ini laris manis sampai agak susah didapat karena stok di toko buku sering habis. Tapi beberapa hari yang lalu,  saya iseng melipir ke Gramedia Pejaten dan nemu buku ini (sepertinya baru banget re-stock), alhamdulillah rejeki hehe langsung lah saya beli.

    Bagi yang belum tahu, Happy Little Soul adalah buku yang ditulis Retno Hening Palupi, ibu dari Kirana, dedek cimit bahagia favorit ratusan ribu pengguna instagram. Memang nggak aneh rasanya kalau dedek-dedek balita lucu banyak follower-nya, tapi buat saya pribadi  mengikuti unggahan akun instagram ibunya Kirana di @retnohening terasa berbeda. Mostly karena foto dan video Kirana terasa lugu, polos, cerdas apa adanya, dan seringkali heart-warming. Bagi yang sama sekali awam, coba deh tengok akunnya. Nggak butuh waktu lama rasanya untuk jatuh cinta sama dedek yang satu ini atau ikut bahagia dengar ketawanya si ibuk  yang rasanya happy sekali  melihat tingkah polah anaknya.

    Happy Little Soul singkat dan sederhananya berisi cerita Retno Hening soal pengalamannya menjadi ibu Kirana. Selain berbagi cerita,  dia juga menuliskan banyak tip dan trik bagaimana "belajar memahami anak dengan penuh cinta" (yang juga jadi tagline buku ini). Boleh dibilang ini semacam buku "how-to" gitu.

    Saya sempat bimbang saat mulai membaca buku ini. Pertama saya jadi orang yang kurang suka membaca sejak mulai kerja, dan itu terbawa sampai sekarang (padahal sekarang udah jadi istri rumahan hehe). Selain itu, jujur saya tak punya ekspektasi banyak memang, hanya beli buku ini karena ingin tahu dan ngefans Kirana saja. Saya kuatir tulisannya tak enak dibaca, bosan membaca karena saya sesungguhnya belum punya anak jadi nggak relate-able, juga kuatir cara penyampaian tip dan trik dalam bukunya bernada menggurui seperti beberapa buku how-to enggak banget yang pernah saya baca sebelumnya.

    Ternyata kekuatiran saya nggak terbukti. Surprisingly, tulisan ibunya Kirana enak dibaca, benar-benar seperti mendengar orang cerita saja. Editornya pun nampaknya oke karena penyampaian ceritanya juga nggak beleber kemana-mana.

    Oh ya, yang saya paling kaget sih karena buku ini bikin saya agak pingin nangis di sekitar 30 halaman pertama. Tulisannya personal tapi mampu 'menghanyutkan'. Bagian awal buku ini berisi cerita awal kehamilan, melahirkan dan semacam personal awakening menjadi seorang Ibu gitu. Cerita semacam ini selalu mudah menyentuh hati. Hati saya sih terutama, yang baru dikarunia Allah jadi istri belum jadi ibu. Sebagai perempuan yang sedang menunggu karunia Allah yang lain yaitu anak, saya terharu sih. Penuturan  ceritanya bisa bikin saya membayangkan peristiwa-peristiwa yang diceritakan. Jadi saya bisa setidaknya menata hati sebelum jadi ibu beneran. Saya juga terharu karena terbayang bagaimana ibu saya dulu melewati perjuangan serupa :')

    Halaman-halaman selanjutnya berisi cerita soal hal-hal apa saja yang dilakukan Retno Hening selama membesarkan Kirana. Bagian ini kadang teknis sih jadi saya mulai melambat atau berhenti-berhenti membacanya. Kadang saya bosen (maklum ketahanan baca bukunya minim), tapi untungnya ceritanya nggak menggurui, humble malah. Berulang kali Retno Hening mengulang bahwa ia pun mengalami kesulitan-kesulitan, belum sempurna dan masih perlu terus berusaha. Bagi saya pribadi ini manis sih. Rasanya riil, mengasuh dan membesarkan anak rasanya memang selalu butuh kekuatan dan kesabaran ekstra, dan saya pun jadi bersyukur mungkin Allah belum memberikan anak karena ingin mempersiapkan saya dulu, karena mungkin selama ini yang paling sering saya bayangkan dari punya anak baru bagian lucu-lucunya saja.

    Oops I digress hehe

    Intinya tip dan trik yang dishare oke. Plus, di buku ini ibunya Kirana sering ngasih info di usia anak berapa sampai berapa tip dan trik tersebut bisa digunakan. Ada juga ide permainan bareng anak dan resep makanan yang bisa digunakan untuk masak bersama anak.

    Salah satu pertanyaan yang mungkin sering muncul saat saya nonton video Kirana adalah kok bisa sih dedek ini hatinya lembut, dan punya empati macam orang dewasa saja. Nah di bagian selanjutnya Retno Hening menuliskan cara-cara yang biasa dia lakukan supaya Kirana jadi anak yang peduli. Selain itu ibu Kirana juga bercerita soal ajaran yang pasti sudah nggak asing lagi buat followers alias #temanmainkirana. Apalagi kalau bukan, "Ndak papa it's okay, I'm special, I love myself" :")

    Nah kemudian di bagian akhir buku, ibu Kirana menutupnya dengan kiat-kiat terkait permasalahan yang kerap dihadapi ibu-ibu. Soal perasaan bersalah dan never good enough, soal rungsing urusan rumah, susahnya untuk sabar, bahkan juga soal komunikasi dengan suami yang seringkali kadang kurang peka walaupun sebenarnya tak pernah ada maksud untuk jadi menyebalkan hehehe. Kalau bagian awal buku ini membuat saya terharu, bagian akhir buku ini justru kadang bikin saya cekikikan hehehe. Retno Hening menuliskan cerita dengan sangat 'manusia', relate-able, jadi kiat-kiat yang disampaikan pun rasanya layak coba diterapkan. Believe-able lah intinya buku ini. Terlebih kita juga sedikit banyak sudah bisa lihat hasil penerapannya. Kirana nan lugu, baik hati dan ceria.

    Secara keseluruhan, menurut saya sih, buku ini bagus. Oh ya buat yang nggak terlalu betah membaca, bukunya juga sangat membantu. Soalnya font-nya nggak kekecilan dan halamannya warna-warni hehehe.

    Rabu, 26 April 2017

    Curhat Sekaligus Tips Menjahit Kain Satin Untuk Pemula


    Bulan Maret kemarin salah satu sahabat saya menikah. Saya dan beberapa sahabat yang lain berencana hadir ke resepsi pernikahan dan sepakat mengenakan baju dengan kain seragam. Kain sudah dikirim ke rumah jauh-jauh hari. Harusnya sih saya segera cari penjahit supaya bajunya sudah siap sebelum hari H. Tapi dasar saya agak-agak procastinator dan Maret kemarin sibuk pindahan, jadi sampai tanggal 20 kainnya belum dijahit, padahal resepsinya tanggal 26, tinggal seminggu lagi hehe.

    Akhirnya berbekal kemampuan jahit seadanya saya nekat mau jahit sendiri. Dibilang nekat, karena saya belum pernah jahit baju sebelumnya. Saya ikut les jahit tapi belakangan berhenti karena satu dan lain hal (selain juga karena sayanya angin-anginan sih). Sebelumnya, di tempat les, saya baru diajarkan membuat terusan sederhana tanpa lengan, dan beberapa jenis rok saja, belum sampai tahap membuat baju. Tapi tekad sudah bulat, jadi saya pun mulai pengerjaan bajunya. 

    Tahap pertama membuat pola, Karena butuh cepat saya nggak pakai cara ukur dan gambar pola yang benar. Saya jiplak pola baju yang sudah ada, cara ini saya contek dari youtuber "withwendy". Kita benar-benar tinggal menjipak baju ke kertas pola lalu dilebihkan beberapa cm untuk seam allowance sesuai keingingan. Cara ini jadi agak tricky waktu membuat pola lengan karena mesti bolak balik bajunya sedemikian rupa untuk menjiplak kerung lengan. Tapi akhirnya pola pun beres.

    Setelah pola digunting, tahap berikutnya adalah memindahkan pola ke kain. Walaupun sempat kesusahan mengepaskan pola dengan kain yang terbatas tapi tahap ini lewat juga,

    Selanjutnya, menggunting kain sesuai pola. Nah di tahap inilah saya mulai ngeh kalau ternyata berhadapan dengan kain satin butuh kiat-kiat khusus (sebelumnya saya hanya pernah jahit satu jenis kain saja, yaitu katun, yang relatively easy  to deal with kalau dibandingkan satin). 

    Kain satin itu benang/ seratnya sangat mudah terurai, jadi kalau ada seratnya yang sedikit saja tercabut, kainnya jadi ketarik dan akan muncul bekas tarikan (kalau orang jawa bilangnya ndredet). Karena itu waktu memotong kain satin, gunakan gunting kain yang tajam (masih bagus). Kalau menggunakan jarum pentul atau peniti juga harus tajam dan nggak berkarat. Selain itu kain satin juga rentan noda minyak, keringat, dan noda lain yang berasal dari cairan. Biasanya noda tersebut berbekas di kain jadi area melingkar yang aneh gitu. Jadi sebelum menyentuh kain pastikan tangan bersih dan nggak berkeringat, dan jauhkan botol-botol cairan segala macam yang mungkin tumpah ke kain.

    Setelah itu kita bisa bersiap untuk proses jahit. Ada orang yang lebih suka jahit dulu baru obras dan ada juga yang sebaliknya. Saya pribadi lebih menyarankan obras dulu pinggiran kain sebelum dijahit untuk mengurangi serat kain yang terurai, jadinya pengerjaan bisa lebih enak, nggak ribet kena benang mbrodol. Nanti setelah jahit kalau seam allowance-nya masih terlalu lebar atau kurang rapi bisa diobras lagi.

    Next, mulai menjahit! Nah ini adalah bagian paling tricky. Saya sempat cranky karena nggak seperti katun, sering muncul jahitan yang berkerut waktu saya berhadapan dengan satin. Belakangan setelah saya baca-baca ternyata ada beberapa hal yang mesti diperhatikan saat menjahit satin yang luput saya lakukan. Berikut saya share ya, supaya teman-teman yang mau jahit satin nggak menyesal belakangan seperti saya.

    • Cek jarum, pastikan jarum masih tajam dan ukuran jarumnya sesuai. Untuk satin dan bahan-bahan lain yang sifatnya ringan gunakan jarum 60/8, 65/9, 70/10. Ukuran jarum bisa dilihat di pangkal jarum atau di kemasan bungkus jarumnya.
    • Pilih panjang jahitan yang pendek. Kebanyakan mesin jahit portabel punya kenop atau tombol untuk mengatur panjang jahitan, pilih yang pendek/kecil-kecil rapat.
    • Pegang kain sambil agak direnggangkan saat menjahit. Ini penting dilakukan untuk mengurangi kerutan saat menjahit, karena kain satin sifatnya licin,
    • Rapikan jahitan dengan membuka bagian belakang jahitan dan setrika. Jangan setel setrika terlalu panas, bahkan gunakan kain pelapis (antara setrika dan kain yang dijahit) bila perlu.
    Begitulah kira-kira tipsnya. Singkat cerita baju yang saya jahit akhirnya jadi juga dalam seminggu, hari yang benar-benar efektif jahit sih 3 hari. Wuiih cepet ya, cuma ya gitu proses pengerjaannya lumayan stress. Apalagi waktu menyambungkan lengan ke bodice, soalnya saya sama sekali belum pernah. Saya nonton video-video tutorial dulu di youtube, tapi karena keburu nggak telaten akhirnya punk-punk-an alias sikat aja. Walhasil bagian lengan baju saya jahitannya keriting. Tapi alhamdulillah-nya bagian lengan baju saya masih tertutup kerudung jadi nggak terlalu masalah. Selain bagian lengan, sebenarnya overall jahitannya juga masih nggak rapi, juga kelimnya. Tapi lumayan lah bisa dipakai :)



    Catatan:
    tips-tips menjahit satiin dalam tulisan ini berasal dari pengalaman pribadi dan beberapa sumber,
    - buku "Essential Sewing Reference Book" oleh Carla Hegeman Crim 
    - website craftsy.com

    Rabu, 12 April 2017

    March 2017 - A Playlist



    Darling - Real Estate


    Suatu ketika suami saya mutar lagu ini di rumah. Saya penasaran karena terdengar enak dan familiar. Ini jarang terjadi karena kebanyakan lagu yang dia putar di rumah nggak terlalu saya suka. Setelah nikah dan dipikir-pikir lagi, musik kesukaan kami sebenarnya ya beda banget (tukeran mixtape saat pacaran ndilalah nggak sepenuhnya akurat untuk dijadikan patokan selera musik heheh, walaupun irisan selera musik kami juga masih lumayan banyak sih). Usut punya usut ternyata lagu yang dia putar lagunya Real Estate, salah satu band yang kuping kami sama-sama suka. Real Estate merilis album barunya tahun ini (In Minds), Walaupun ini bukan track favorit saya sealbum, tapi lagunya enak, nyantol, plus video klipnya lucu, ada kuda ikut ngeband, dan kudanya cantiiik sekali.

    Halfway Home - Broken Social Scene


    Sudah lama playlist saya nggak terlalu 'kenceng'. Single baru Broken Social Scene ini ya nggak 'kenceng' juga sih sebenarnya, tapi lumayan ngasih hentakan-hentakan kecil untuk daftar putar saya yang belakangan mostly aman di kuping.


    Is It The Answer - Reality Club


    Sejak pertama kali dengar lagu ini di Soundcloud tahun lalu, saya memang sudah terlanjur kecantol intronya. Nah bulan Maret kemarin, lagu band-nya mbak Kittendust ini masuk Spotify, akhirnya makin sering lah saya putar. Lagunya masa muda banget baik bunyi dan lirik. Kalau lagu ini rilis waktu saya umur 21/22 pasti saya jauh lebih suka. Rasanya kebayang kalau Music Gallery venue-nya masih di Upper Room Annex Building, dan saya masih jadi auditor KAP 8 huruf pasti saya sudah kabur sekelebat dari lembur, nyeberang dari The Plaza biar bisa nonton lagu ini dimainkan langsung.


    Lights - Chris Rubeo


    Saya tahu lagu ini dari loncat-loncat di Spotify yang kebetulan banget. Nggak tahu awalnya denger apa sampai nyobain dengar Chris Rubeo dan milih lagu ini untuk diputar pertama kali. Saya suka banget lagunya, terdengar seperti lagu lama tapi bukan. Terdengar familiar di kuping tapi baru juga, hehe. Enak sekali didengar sehabis mandi sore sambil minum teh tong tji hangat dan biskuat cokelat.


    Pizza - Oohyo


    Rasanya saya harus legawa karena Oohyo sepertinya nggak menunjukkan niatan untuk bikin musik sejenis lagu di album Girl Sense lagi. Tapi saya nggak terlalu keberatan, karena single barunya masih sangat bisa dinikmati. Saya pertama kali kenal musik Korea waktu mulai nonton K-drama era SMA, saya jadi suka K-pop waktu itu karena musiknya berciri. Semacam emosionil yang lucu dan imut tapi masih beda karakter dengan J-pop. Tapi setelah badai K-pop beberapa tahun belakangan ini saya jadi overwhelmed. Buat saya, Oohyo itu seperti jalan tengah antara K-pop yang dulu saya suka dengan K-pop yang sekarang sedang meluap-luap. Lagu Pizza ini saya suka karena masih khas Oohyo, plus artwork-nya lucu, bikin laper karena ya pakai gambar pizza hehe.


    Something There - Beauty & The Beast Casts


    Lagu ini masuk playlist karena bulan kemarin memang musimnya orang-orang nonton Beauty and The Beast, termasuk saya hehe. Secara musikal saya suka walaupun kadang filmnya agak membosankan. Nah lagu ini jadi favorit karena terasa paling 'manis', walaupun Days In The Sun dan Belle juga sama bagusnya.


    Still Feel Like Your Man - John Mayer


    Dari The Search For Everything - Wave Two, rasa-rasanya ini lagu John Mayer yang paling 'asik'. Enak didengar sambil ngapa-ngapain. 


    Stop Moving - Simian Ghost


    Walaupun kangen dengan lagu mereka yang tipe-tipe Cut Off Point atau Echoes Of Songs, tapi lagu ini cukup sulit ditolak, terutama kalau sedang butuh lagu-lagu yang dance-able.


    Time After Time (Cover Version) - Iron and Wine



    Sejak nonton This Is Us dan dengar Kate nyanyi Time After Time-nya Cyndi Lauper, saya jadi baru ngeh kalau ternyata lagu itu enak juga dijadikan lagu yang lebih down tempo. Saya berusaha cari-cari versi cover Kate tapi nggak nemu, akhirnya coba dengar beberapa versi cover lain di Spotify dan paling suka dengan versi Iron and Wine.


    White Light - Real Estate


    Ini lagu favorit saya dari album barunya Real Estate. Memang tipikal bunyi kesukaan saya sih hehe. Rasanya ringan tapi nggak gampang bikin bosan, beat-nya pas, bisa dipakai sing along, bisa disetel keras tanpa sungkan sama tetangga karena lagunya kelewat 'aneh' atau berisik, bisa dipakai dansa kecil-kecilan juga sambil cuci piring.


    Playlist lengkap bisa didengarkan di sini


    COPYRIGHT © 2017 MANZILA | THEME BY RUMAH ES