• Jumat, 06 Maret 2020

    Manzila's Romcom List 2019






    Oh i love romcom! Dari jaman remaja cilik, yang nonton romcomnya nyewa dari rental vcd dan ditonton bareng Ibuk, sampai sekarang sudah tiga puluh satu tahun juga masih seneng romcom.

    Ya apalagi sekarang sih... Sejak jadi ibu, dengan waktu me-time yang ga sebanyak dulu, rasanya otak dan hati ini cuma punya ruang untuk romcom. Habis rata-rata enak ditonton, ringan, dan menyenangkan. Gak sanggup lagi sekarang nonton yang njelimet, sedih, terlebih yang serem-serem, ampun dah.... (eh kecuali Stranger Things ding, eh itu mah ga serem ya? Haha, sorry I digress)

    Nah dari banyak romcom yang saya tonton selama 2019, ini nih daftar romcom yang paling saya suka. Tiga film yang saya sebut paling awal, adalah yang paling saya suka. Film ketiga sampai ketujuh, saya juga sangat suka tapi mulai bingung ngurutinnya. Dan sisanya layak dicoba buat menghabiskan waktu lah. 

    Okay, here we go!


    Long Shot


    Sejak awal kemunculannya memang film ini sudah masuk list film yang pingin ditonton sih, soalnya ceritanya terasa baru dan belum pernah aja lihat romcom model begini.

    Jadi Charlotte (Charlize Theron), dulunya pernah babysitting Fred (Seth Rogen) pas kecil, terus mereka ketemu lagi pas Charlotte jadi capres dan Fred, yang jurnalis idealis, lagi jobless. Terus di-hire lah si Fred ini sama Charlotte untuk jadi speech writernya dia. Terus setelah lewatin ini itu, berantem ini itu, mereka berdua jadi deket. Nah lho, piye kalo capres kaya Charlize Theron pasangannya Seth Rogen? seru ga tuh?

    Oh iya, buat kamu yang nonton romcom tapi masih pake berasa guilty, Long Shot ini mungkin ga guilty guilty banget, soalnya settingnya kan politik-politik gitu, jadi terkesan agak ga ringan dikit lah walaupun di beberapa scene ngakak-ngakak juga sih hahaha. 


    Brittany Runs a Marathon


    Sejujurnya, saya nggak pernah tau dan otomatis nggak pernah kepikiran juga untuk nonton film ini. Sampai akhirnya, suatu hari, lagi pingin break nonton Modern Love di amazon prime, dan asal aja milih nonton film ini.

    Surprisingly, saya suka banget filmnya. Ceritanya mungkin kaya udah pernah denger, alias familiar ya, soal cewe pingin kurus. Ekspektasi awal sih standar aja, kirain cuma tipe film buat menghabiskan waktu aja, ga taunya heart-warming euy.

    Film ini based on true story, tentang seorang perempuan yang memilih perubahan positif untuk dirinya sendiri lewat lari.

    Kalau nonton trailernya sih kayanya film ini bukan film yang bagusnya wah banget gitu, walaupun bertabur kutipan pujian. Tapi pas nonton, somehow kok "kena" ya di saya. Bahkan, di bagian akhir film, saat Brittany akhirnya ikut New York City Marathon, saya sampe berkaca-kaca pengen nangis lho... Layak dicoba banget sih film ini. Pake free trial amazon prime aja, mayan gratis hehehe.


    Love For Sale 2


    Sejujurnya ini satu-satunya film cinta-cintaan Indonesia keluaran 2019 yang saya tonton. Saya suka sih. Kagum sama karakter Arini dan aktris pemerannya (Della Dartyan). Kok bisa megang banget di dua situasi berbeda gitu ya, antara film awal dan sekuelnya. Memang baiknya, nonton film awalnya dulu sih supaya kerasa, betapa misterius dan ajaibnya Si Arini ini.

    Selain sosok Arini, ibunya Ican yang diperankan bu Ratna Riantiarno juga jadi bagian paling nyenengin sih, karena juga megang banget. Mewakili sekaki karakter ibu-ibu yang serba kuatir soal jodoh dan masa depan anak-anaknya, baik perhatiannya, usaha dan doanya, maupun rewel serta resenya.

    Dari segi cerita juga memang cukup runyam sih ini film, sesuai dengan tagline promonya, kisah cinta paling horor tahun ini katanya.

    Oh iya, buat yang sudah nonton Love for Sale dan ga suka, jangan buru-buru antipati sama sekuelnya ini. Karena dua film ini cukup berbeda sih, dan saya pribadi memang overall lebih suka sekuelnya.


    Yesterday 


    Jujur tertarik sama film ini karena keterkaitannya sama The Beatles sih. Alur ceritanya sebenernya cukup familiar buat orang yang sering nonton romcom seperti saya, tapi jadi menarik karena ada semesta lain di mana ga ada The Beatles. Cuma Jack (Himesh Patel), seorang musisi ga laku, aja yang ngeh sama The Beatles dan lagu-lagunya. Jack lalu menyanyikan lagu-lagu hit The Beatles dan jadi terkenal. Terus muncul deh konflik sama orang-orang terdekat, persoalan seleb anyaran, dan masalah etis soal lagu-lagu andalan yang sesungguhnya bukan ciptaan dia itu. 

    Film ini menyenangkan ditonton karena selain bisa denger lagu-lagu The Beatles, ada Ellie (Lily James) yang adorable, cameo Ed Sheeran yang kadang kocak, plus agak sedikit deg-deg an juga sih pas nonton dan coba menerka kira-kira gimana ya kalo Jack ketahuan. 

    Oh iya, ada kejutan tipis juga di bagian hampir akhir film. Seneng aja rasanya membayangkan kalau seandainya beneran kejutan itu jadi nyata. 

    Someone Great 


    Saya nonton film ini karena pas lihat trailernya di Youtube, nemu beberapa komen yang kira-kira berbunyi: "aku nonton ini gara-gara Taylor Swift"

    Sebagai penggemar mbak Swift, saya pun langsung ke-trigger deh. Setelah akhirnya nonton, ternyata beneran suka dan ga nyesel sih. 

    Rasanya pingin ngajak diri saya sendiri 5 sampai 15 tahun lalu nonton film ini deh... kayanya lumayan signifikan buat ngurangin frekuensi nangis-nangis ga penting pada masanya hehehe.

    Walaupun girl gang-nya Jenny (Gina Rodriguez) agak "rusuh", dan terlalu swag kali ya buat saya (yang cupu ini), tapi mereka bener-bener menggambarkan kalo salah satu yang paling kita butuhkan usai break up yang kampretos, ya memang teman-teman tersayang.

    Belakangan, setelah nonton filmnya, saya baru inget mikir: "tadi jadinya apa ya hubungannya film ini sama Taylor Swift?" 

    Dan setelah googling ternyata uwuu banget sih jawabannya. Salah satu inspirasi dibalik ide film ini adalah Clean-nya Taylor Swift, dan lalu mbak Tay nonton film ini, lantas terinspirasi untuk bikin lagu Death by a Thousand Cuts. Lucu ya kan? bisa bolak balik gitu.

    Selain itu, poin tambahannya, soundtrack film ini banyak yang catchy dan pas. Truth Hurts-nya Lizzo ga usah disebut lah ya, udah nyatu banget sama filmnya juga. Yang tiba-tiba ngegelitik kuping saya sih Mansard Roof-nya Vampire Weekend.  Secara timeline relationship Jenny dan pacarnya (eh mantan ding), lagu ini pas banget. Soalnya era lagu itu dirilis, kebetulan juga memang era kita lagi geblek-gebleknya, terjerembab ke relationship yang kita pikir bakal selamanya, eh ternyata sama sekali enggak. Iya ga sih? Or it's just me? Kamu umurnya ga tiga puluh tahunan kaya saya ya? Hehehehe.

    Baiklah karena penjelasan saya mulai ngaco, baiknya coba tengok langsung di Spotify aja kali ya. Beberapa favorit saya lainnya: Supercut-Lorde, Old Man Saxon-The Perils, Rain-Nicole Bus, Don't Stop The Groove-Rudey Barnes, dan Your Best American Girl-Mitski.


    Plus One


    Film ini bercerita tentang permasalahan runyam-runyam sedap, soal sahabat yang jadi ekstra dekat setelah mereka janjian untuk gantian jadi temen kondangan satu sama lain. Yang bikin film ini menarik menurut saya, dialog dan pemerannya sih. Terutama pemeran Alice (Maya Erskine) yang terkesan "nyablak" tapi sebenernya alus juga hatinya macem cheesecake fluffy. 

    Acting Maya Erskine dalam salah satu adegan bahkan berhasil bikin bikin saya melontarkan komentar emosional macam "Ya Tuhan, ppjahatnyaa ini Si Ben (Jack Quaid) pengen jitak jadinya"

    The Sun is Also a Star



    Film ini saya tonton karena kemakan banget sih sama trailernya. Potongan adegan dan musiknya pas, cuplikan dialog juga uwuu, dan gambarnya bagus.

    Fyi, film ini diangkat dari buku bestseller gitu, tapi saya ga baca bukunya. Ceritanya tentang mas mas korea-amerika calon dokter yang naksir seorang mbak mbak yang tadinya ga percaya cinta, tapi akhirnya naksir juga. Masalahnya, mereka cuma punya waktu satu hari untuk menyikapi ini semua.

    Setelah nonton filmnya beneran, ada beberapa ekspektasi saya yang nggak terpenuhi sih. Filmnya di beberapa momen nggak sebagus trailer. Tapi dari sisi cerita memang oke dan unik, jadi tetep nggak nyesel nontonnya. Kalau kamu tipe yang hopeless romantic pasti suka sih kayanya.


    The Hustle



    Film yang satu ini sebenarnya lebih komedi sih ketimbang romance. Tapi saya suka banget, karena lucu dan menghibur. Ceritanya tentang perselisihan kocak dua con woman yang beda gaya dan beda kelas gitu.

    Di bagian akhir film ada plot twist tipis. Terus pas filmnya selesai ada lagunya Meghan Trainor yang mood booster banget (buat saya sih hehe). 

    Friend Zone


    Dari judul udah ketahuan lah ya ceritanya soal apa.Tahun ini saya cuma nonton dua romcom thailand rilisan baru, London Sweeties dan Friend Zone. Buat saya, Friend Zone lebih jelas, dan lebih menghibur sih. Film ini diproduksi GDH, studio film yang juga memproduksi Bad Genius dan A Gift, boleh lah ya dimasukin watchlist. 


    Isn't It Romantic


    Konsepnya cukup lucu, romcom tapi nyeritain soal orang yang ga suka romcom dan dia kejebak dalam hidupnya yang tiba-tiba jadi kaya romcom setelah sebuah kecelakaan. Bukan romcom yang "mbekas", tapi menyenangkan untuk ditonton.


    COPYRIGHT © 2017 MANZILA | THEME BY RUMAH ES